Beranda

Kredit Perbankan untuk UKM

Tak sedikit perusahaan di Amerika Serikat yang berangkat dari sebuah usaha kecil dan menengah (UKM) lalu menjadi besar dalam perjalanan selanjutnya. Menciptakan keunggulan kompetitif adalah hal penting dalam perjalanan UKM di Negeri Paman Sam itu. Indonesia perlu belajar dari sana.

Dua raksasa industri komputer, Apple dan Microsoft, adalah contoh paling tepat untuk itu. Apple bahkan memulai bisnis dari garasi mobil milik ayah angkat Steve Jobs, sang pendiri. Untuk mendapatkan modal usaha, Steve Jobs harus menjual kalkulator HP.

Sementara itu, rekannya, Stephen Wozniak menjual mobil miliknya. Jadilah keduanya kini memiliki modal sebesar US$ 500 untuk memulai usaha mereka. Dengan modal uang dari hasil jualan barang miliknya itulah mereka membiayai desain pertama Apple saat Jobs berusia 21 tahun dan Wozniak lima tahun lebih tua. Siapa sangka kalau kini Apple menjelma menjadi sebuah usaha besar di dunia.

Bahwa Apple kini merupakan raksasa industri komputer di dunia, ini semua karena Jobs dan Wozniak memiliki visi dan spirit yang sama, tanpa membeda-bedakan asal etnis. Steve Jobs adalah keturunan Syria, sedangkan Wozniak adalah keturunan Polandia. Tak ada hambatan budaya dalam menggapai impian mereka.

Steve Jobs yang telah meningggal dunia 5 Oktober 2011 lalu dikenal energik, inovatif, cerdas, dan memiliki semangat anti-kemapanan sebagaimana umumnya masyarakat dalam budaya AS. Sosok ini selalu berupaya menjadi underdog ketimbang menjadi business leader. Dengan sikapnya yang rendah hati dan terbuka, Steve Jobs yang penganut Zen Budha ini tidak mendapatkan halangan berusaha dari mayoritas rakyat AS yang beragama nasrani.

Keunggulan Kompetitif
Umumnya perusahaan-perusahaan UKM di Amerika Serikat menganut open system dan hanya sedikit yang menganut sistem tertutup. Apple adalah perusahaan yang menganut sistem tertutup. Tapi pada perkembangannya, Apple mengandalkan kepada modal ventura dan baru kemudian perusahaan ini melakukan penawaran saham perdana perusahaan atau initial public offering (IPO).

Semangat berinovasi dan terus menerus mengembangkan teknologi merupakan hal yang sangat melekat dalam diri Steve Jobs dengan Apple-nya itu. Dengan begitu, Apple yang semula menjual produknya di dalam negeri, kini produk ekspornya juga semakin besar dan merambah dunia.

Ini menjadi ciri utama UKM di AS yang terus berinovasi dan mengembangkan teknologi, serta begitu piawai dalam mengembangkan aliansi bisnis dengan perusahaan di luar negeri.  Apple, misalnya, bekerja sama dengan perusahaan Jerman yang kemudian membuka usaha di AS.

Bukan hanya itu, Apple juga terbuka terhadap pekerja asing yang memiliki keahlian yang sangat khusus. Dalam konteks ini kita dapat melihat bahwa keunggulan komparatif UKM di AS akhirnya menjadi keunggulan kompetitif. Perusahaan seperti Apple yang semula hanya menghasilkan produk komputer kini juga merajai consumer elektronik.

Keunggulan kompetetif ini dapat terjadi karena iklim usaha yang mungkin menciptakan monopoli selalu ditantang oleh hadirnya usaha baru. Mengubah keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif adalah strategi bisnis UKM di Amerika Serikat yang sulit untuk ditandingi oleh UKM dari negara-negara lain. Negara-negara lain umumnya hanya mengandalkan keunggulan komparatif.

Bakat dari para pengusaha muda di AS itulah yang memang luar biasa. Mereka mampu mengubah keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif. UKM di sana justru berkembang menjadi capital intensive. Hebatnya lagi, ekspansi ekspor yang dilakukan UKM AS tidak menggunakan program trade financing yang dikembangkan oleh pemerintah AS.

Pasar yang diandalkan oleh UKM di Amerika Serikat adalah kompetisi yang cenderung monopolistik sehingga tidaklah mengherankan jika mereka mampu menciptakan teknologi yang bersifat increasing return to scale. Dengan teknologi seperti ini, UKM di sana mampu menghasilkan produk secara efisien bukan melalui mekanisme skala ekonomi. Keunggulan teknologi tersebut dapat terjadi karena adanya keterkaitan yang erat antara penelitian dan pengembangan di universitas serta masyarakat bisnis. UKM di sana juga mudah bersinergi dalam rangka akusisi teknologi.

Dengan cara seperti ini maka siklus hidup perusahaan dapat terus berlanjut dalam waktu yang tak terhingga, sehingga memungkinkan perusahaan yang semula berskala kecil bisa berkembang menjadi skala menengah dan kemudian menjadi skala besar. Ketika perusahaan mencapai skala besar maka efisiensi bukan hanya diperoleh dari teknologi tapi juga dari skala ekonomi.

Belajar dari AS
Jikalau pemerintah Indonesia hendak memajukan UKM, hal paling gampang yang bisa dilakukan adalah belajarlah dari Amerika Serikat dengan perusahaan-perusahaan, seperti Apple, Google, dan Microsoft, bisa dijadikan sebagai model. Keunggulan kompetitif tetap tak bisa diabaikan dalam persaingan global ini, tak terkecuali untuk berbagai produk UKM yang kita miliki.

Kuatnya fundamental ekonomi yang kita miliki dan naiknya investment grade, yang diberikan oleh dua lembaga pemeringkat, Fitch dan Moody’s, harus diimbangi dengan menguatkan pertumbuhan sektor mikro atau usaha kecil menengah. Penguatan tersebut diyakini dapat meningkatkan pendapatan masyarakat di daerah dan meningkatkan jumlah lapangan pekerjaan.

Di sini peran perbankan juga harus didorong dan dioptimalkan dalam mendukung UKM. Hal ini bisa dilakukan dengan memberikan subsidi bunga bagi UKM untuk modal kerja, trade finance, dan pembiayaan preshipment. Idealnya bank yang banyak bersinggungan dengan UKM, seperti BRI, harus diberikan kesempatan untuk menyalurkan program ini. Indonesia harus berani memulai pendekatan pembangunan yang pro-UKM. Tidak ada kata terlambat untuk ini.

sumber :(investor.co.id)

Post new comment

Konten ini sifatnya pribadi sehingga tidak ditampilkan ke publik.
CAPTCHA
Pertanyaan berikut untuk mengetahui anda bukanlah program komputer atau spammer.

User login

(c) 2010 - Koperasiku.com