
BONEK
“Tinggi badan saya enam kaki, empat inci, badan saya kurus, kulit gelap, rambut hitam kasar dan mata kelabu. Data pribadi singkat itu muncul dalam artikel berjudul ‘Saya memang bukan apa-apa’. Ditulis Abe ketika ia menyorongkan diri ikut pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) ke 16 di tahun 1859.
Ada nada pasrah di situ. Ia memang mulai tawar dengan percaturan politik yang berkali-kali menempatkan posisinya sebagai pecundang. Bahkan setahun sebelumnya ia sudah bersiap mundur dari dunia politik
Nyatanya Ia menang. Dan kisah hidup anak imigran miskin asal Inggris itu menjadi inspirasi tentang kisah orang-orang yang berani gagal namun akhirnya menuai sukses.
Sejarah memang diwarnai dengan sejumlah kisah tentang keberanian yang luar biasa, alias nekat. Nama Abraham Lincoln boleh jadi bukan siapa-siapa, kalau saja Abe - panggilan akrabnya – benar-benar mundur dari kancah politik pada 1858.
Apakah ia berani, atau hanya nekat akibat terlanjur sering mengalami kegagalan? Soalnya, berani dan nekat adalah dua hal berbeda. Yang satu mengabil sikap dengan perhitungan untung rugi yang terukur, sementara yang lainnya identik dengan pertaruhan dan sikap yang memberontak terhadap kemapanan. Bahkan nekat dicap sebagai sikap tanpa akal sehat.
Dunia sering kali terkesima dengan tindakan orang-orang nekat. Seperti Columbus yang dianggap konyol ketika berlayar ke barat untuk mencapai timur. Alih-alih mencapai Asia, ia malah menemukan daratan baru bernama Amerika.
Reinhold Messner lebih dari sekadar nekat. Ia boleh dibilang bonek, (meminjam akronim supporter sepakbola Jawa Timur) ketika mencapai puncak Everest seorang diri, tanpa tabung oxygen. Ia berhasil turun dalam kondisi hidup. Dunia nyaris tak percaya. Tapi sang bonek Messner berhasil menembus udara tipis (into thin air) mematikan di puncak tertinggi itu.
Kalau Anda singgah ke pertokoan mewah Marks & Spencer, sulit dipercaya bahwa di masa lalu ia dibangun oleh seorang ‘super bonek’ bernama Michael Marks.
Di tahun 1882 dalam usia 19 tahun, imigran miskin Polandia berdarah Yahudi ini merantau ke London. Bekalnya hanya kemauan keras, tidak memiliki ketrampilan apapun, tidak bisa berbahasa Inggris, bahkan tidak bisa menulis dan membaca.
Dengan sedikit bantuan modal dari rekan sesama imigran, Marks memulai karir sebagai pedagang pakaian keliling. Ia memasang harga pada setiap barang dagangannya, rata-rata 1 penny. Bukan tak ingin menjual lebih dari 1 penny, masalahnya Ia tidak bisa menulis dan tak pula mampu berbahasa Inggris.
Marks membuktikan kendala fisik dan intektualitas dapat dikalahkan oleh kerja keras yang sungguh-sungguh. Ketika meninggal pada 1907, Ia mewarisi 160 toko tersebar di seantero Inggris.
Bagaiman Marks mampu meraih sukses? Ceritanya memang panjang. Kuncinya, ia seorang yang mau bekerja apa saja, asal jujur dan bermanfaat. Bisnisnya berkembang ketika berkongsi dengan Thomas Spencer, kasir sebuah perusahaan pemasok barang dagangan keliling. Marks bertugas menjual barang dan Spencer mengatur administrasi keuangan.
Seperti halnya Marks, kebanyakan para bonek berangkat dari komunitas keras yang akrab dengan kemiskinan. Setiap tahun, seusai idul fitri, Jakarta tambah sesak oleh serbuan bonek dari pedesaan. Mereka tidak bisa lagi mengandalkan lahan -lahan pertanian yang makin sempit oleh desakan industriliasasi.
Maka para bonek membanjiri Ibukota. Ada yang sukses jadi pengusaha, pelawak atau artis sinetron. Tapi tidak sedikit pula yang jadi gelandangan. Jumlah mereka tak bisa dicegah selama konsentrasi pembangunan dan modernisasi hanya menjadi hak kaum perkotaan. (Irsyad Muchtar)

Post new comment