Beranda

Berebut Pasar Pembiayaan UMKM

Ada fenomena yang sangat menarik di tengah badai krisis hebat pada 1997/1998, yakni tetap bertahannya aktivitas ekonomi pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pembiayaan UMKM itulah yang banyak menofong pendapatan bunga kredft]3!ftankan saat itu. Indonesia sudah tiga kali menghadapi krisis ekonomi, yakni 1997/1998, 2008/2009, dan krisis sekarang ini, 2011. Dari ketiganya, krisis 1997/1998 adalah yang sangat berat, ditandai dengan begitu banyak bank yang terpaksa ditutup, perusahaan-perusahaan gulung tikar, pengangguran terjadi di mana-mana.

Dalam kondisi yang tidak kondusif tersebut, justru UMKM tetap eksis, bahkan tampil sebagai penyelamat ekonomi nasional. Sejak saat itu peranan UMKM dalam menopang perekonomian nasional maupun regional dari tahun ke tahun baik eksistensi, ketangguhan maupun kontribusinya terus meningkat

Keberhasilan UMKM ini dikarenakan, pertama, UMKM tidak memiliki utang luar negeri dan tidak banyak utang ke perbankan. Kedua, sektor-sektor kegiatan UMKM, seperti pertanian, perdagangan, industri rumah tangga, dan lain-lainnya tidak bergantung sumber bahan baku dari luar negeri. UMKM menggunakan bahan baku lokal. Ketiga, meski belum semuanya, UMKM berorientasi ekspor.

Jadi, boleh dikatakan UMKM merupakan soko guru perekonomian nasional. Sumbangan UMKM terhadap produk domestik bruto mencapai 54%-57%, dan kontribusinya terhadap penyerapan tenaga kena sekitar 96%.

Incaran Perbankan Nasional

Belajar dari krisis 1997/1998, bank-bank yang sebelumnya lebih terfokus pada pembiayaan korporasi mulai beralih ke UMKM. Baik bank-bank umum nasional maupun bank-bank asing mulai berlomba lomba-lomba untuk terjun dalam pembiayaan UMKM. Sebelumnya, pembiayaan UMKM didominasi oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Keduanya memang pionir dan spesialis dalam pembiayaan UMKM.

Hingga akhir 2010, pengusaha UMKM yang memperoleh layanan perbankan baru sekitar 50%lebih. Ini merupakan peluang bagi bank umumnasional maupun bank asing dan BPR untuk terusmeningkatkan pembiayaan di sektor UMKM.

Saat ini, hampir semua bank giat dalam pembiayaan sektor UMKM. Di luar BPR, bank-bank besar yang kini mendominasi penyaluran kredit mikro adalah Bank Rakyat Indonesia, Bank Mandiri, Bank CIMB Niaga, dan Bank Danamon. Pertumbuhan kredit mikro pada keempat bank tersebut rata-rata tumbuh di atas 20%.

Data Bank Indonesia menyebutkan, pertumbuhan pembiayaan UMKM Bank BRI Maret 2011 naik sebesar 39,62% dengan total dana yang dikucurkan mencapai sebesar Rp 79,04 triliun. Padahal pada Maret 2010, total pembiayaan UMKM yang dikeluar bank ini tercatat sebesar Rp 56.61 triliun.

Sementara itu, Bank Mandiri naik sebesar 37,5% dengan total pembiayaan

UMKM sebesar Rp 7,7 triliun. Bandingkan dengan keadaan Maret 2010, yang masih tercatat total pembiayaan UMKM sebesar Rp 5,6 triliun. Bank CIMB Niaga juga naik sebesar 619,55% dengan total pembiayaan UMKM sebesar Rp 453 miliar dibandingkan Maret 2010. dengan total pembiyaan UMKM sebesar Rp 62,9 miliar. Bank Danamon naik sebesar 23% dengan total pembiayaan UMKM sebesar Rp 15.78 triliun. Bandingkan dengan Maret 2010 yang tercatat total pembiayaan UMKM sebesar Rp 12,89 triliun.

Data dari Bank Indonesia akhir 2010 juga menunjukkan bahwa pangsa kredit UMKM di perbankan umum mencapai 5332 %. Hal tersebut menunjukkan kredit sektor UMKM telah mendominasi total kredit perbankan umumnya. Jadi, tidaklah salah jika banyak bank umum nasional maupun bank asing saat ini lebih menekuni bisnis pembiayaan UMKM yang terbukti tahan terhadap berbagai krisis.

Hal tersebut juga bisa dilihat dari angka kredit macet atau non performing loan (NPL) untuk pembiayaan UMKM pada akhir 2010 rata-rata tercatat sebesar 2,65%, lebih rendah dibandingkan dengan NPL dari kredit non-UMKM yang mencapai sekitar 3,15%.

Berbagai strategi terus dilakukan oleh ke empat bank besar tersebut untuk mengembangkan pembiayaan

UMKM. Bank BRI sejak akhir 2009 telah mengembangkan apa yang disebut teras BRI. Hingga akhir Juni 2011 jumlah teras BRI telah mencapai 969 unit. Teras BRI merupakan perpanjangan tangan BRI unit yang menggarap pasar tradisional dan pengusaha mikro lainnya di sekitar pasar tradisional. Barik CIMB Niaga juga sudah mengembangkan outletnya dari 35 menjadi 142 outlet, dan Bank Danamon mencapai 1.200 outlet. Bisnis pembiayaan UMKM di Bank Danamon lebih dikenal dengan sebutan Danamon Simpan Pinjam (DSP).

Bersaing dengan BPR Bagaimana dengan BPR yang selama ini dikenal sebagai spesialis pembiayaan UMKM? Dengan dibukanya berbagai pintu bank-bank umum untuk memberikan pembiayaan dibidang UMKM, ini tentunya akan menjadi pesaing berat bagi BPR. Apalagi bank-bank umum memiliki banyak kelebihan, seperti keunggulan tehnologi, sumber dana yang cukup besar, jaringan yang tersebar di seluruh Indonesia, dan lalu lintas pembayaran yang bisa dilakukan dengan cek dan bilyet giro.

Namun, BPR mestinya tak perlu berkecil hati. BPR juga memiliki sejumlah keunggulan yang tidak dimiliki oleh bank-bank umum, seperti pelayanan yang dilakukan secara face to hee, mampu menyesuaikan kondisi, adat istiadat budaya, dan perike-hidupan masyarakat sekitarnya.

BPR juga dapat memberi lebih dari yang diharapkan nasabah, karena umumnya nasabah UMKM tidak sekadar membutuhkan modal tapi juga bimbingan, arahan, petunjuk, konsultasi, serta pemahaman terhadap kondisi nasabah yang tidak semuanya dapat dilayani oleh bank umum.

Dengan berbagai kelebihan yang dimiliki oleh BPR tersebut, maka nasabah BPR biasanya akan tetap loyal karena pendekatan sosial budaya yang dilakukan oleh BPR umumnya lebih tepat untuk pembiayaan UMKM. Hal ini berbeda dengan pelayanan bank umum yang dianggap terlalu kaku dan prosedural, sehingga membuat calon nasabah enggan datang ke bank umum.

Hanya sayangnya, peningkatan jumlah penyaluran pembiayaan UMKM, baik oleh bank-bank umum maupun oleh BPR, ternyata belum banyak berpengaruh pada peningkatan aksesibilitas pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah pada layanan perbankan.

Data Bank Indonesia menyebutkan, hingga akhir 2010, pengusaha UMKM yang memperoleh layanan perbankan baru sekitar 50% lebih. Hal tersebut tentunya memberikan peluang bagi bank umum nasional maupun bank asing dan BPR untuk terus menerus meningkatkan pembiayaan di sektor IMKM.

Sumber : Investor Daily Indonesia

User login

(c) 2010 - Koperasiku.com